Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Pandawa Lare Kinatah Emas
- Jual Blawong Tempat Pajang Keris Tombak Kayu Jati
- Keris Tilam Upih Pamor Wulan Wulan Tuban Majapahit
- Keris Brojol Pamor Pedaringan Kebak Rojo Gundolo
- Keris Tilam Upih Tangguh Tuban TUS
- Keris Tilam Sari Sepuh
- Pusaka Tombak Cacing Kanil Pamor Adeg Mrambut
- LANGKA!! Keris Kalawijan Luk 27 Kyai Rangga Wirun
Keris Putut Sajen
| Kode | FR031 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Sanak, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Bethok |
| Dhapur | : Puthut Sajen |
| Pamor | : Sanak |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Bahan Kayu Jati |
| Deder/Handle | : - |
| Pendok | : - |
| Mendak | : - |
Keris Putut Sajen
Keris Putut Sajen
Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan penamaan umum bagi kelompok keris sederhana yang diperkirakan berasal dari masa-masa awal perkembangan budaya keris di Nusantara. Ukurannya relatif pendek, sekitar sejengkal tangan, dengan ciri utama berupa ganja iras, yakni hulu yang menyatu dengan bilah karena ditempa dari sebongkah logam yang sama. Pada bagian hulunya dipahat figur manusia yang telah mengalami stilisasi, sederhana dalam bentuk, tetapi kaya akan makna simbolik.
Kesederhanaan tersebut juga tercermin pada garap bilahnya. Sebagian besar hanya menampilkan pamor keleng, sanak, atau mrambut, sementara pada periode yang lebih muda mulai dijumpai pamor banyu mili maupun singkir. Sifatnya yang bersahaja justru mengisyaratkan fungsi awal keris ini sebagai perlengkapan ritual, bukan semata-mata senjata atau benda pusaka sebagaimana berkembang pada masa berikutnya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, keris sajen dipercaya memiliki daya perlindungan terhadap kehidupan agraris, khususnya sawah dan ladang, dari ancaman pagebluk, hama, maupun gangguan yang diyakini berasal dari kekuatan tak kasatmata. Pada upacara bersih desa, keris ini ditempatkan di tengah ubo rampe sebagai bagian dari sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur dan roh penjaga alam. Seusai upacara, keris tersebut lazim “dipasrahkan” kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau di tengah ladang, sebagai simbol penyatuan manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.
Jejak tradisi tersebut diduga telah berakar sejak masa yang sangat tua. Prasasti Poh (904 M) misalnya, menyebut istilah keris sebagai bagian dari perlengkapan sesaji. Meski demikian, masih menjadi ruang kajian apakah keris yang dimaksud telah menyerupai bentuk keris modern, atau justru masih berupa keris purba yang sederhana seperti yang kini dikenal sebagai keris sajen.
Dalam kajian Barat, jenis ini kerap disebut Pichit Majapahit. Bentuknya umumnya menggunakan ganja iras dengan hulu antropomorfis yang beragam. Ada figur manusia berdiri membungkuk dengan kedua tangan bersilang di dada, ada yang duduk bersila dengan tangan bertumpu di atas lutut, sementara bentuk lain hanya menampilkan kepala memanjang tanpa lengan sehingga menyerupai nisan Islam. Variasi tersebut memperlihatkan adanya proses akulturasi budaya dan kepercayaan yang berlangsung sepanjang perkembangan masyarakat Jawa.
Karsten Sejr Jensen dalam Den Indonesiske Kris menguraikan simbolisme pada ragam bentuk kepala tersebut. Hiasan kuluk dipahami sebagai lambang bangsawan atau putra Islam; mahkota yang menyerupai menara melambangkan keturunan raja; sedangkan bentuk sorban merepresentasikan pendeta atau penasihat spiritual. Sementara itu, G.B. Gardner (1933) menafsirkan beberapa bentuk kepala yang menyerupai ular sendok (cobra) sebagai lambang persembahan kepada dewa ular, memperlihatkan betapa kaya lapisan simbolik yang melekat pada sebilah keris sederhana.
Temuan arkeologis turut memperkuat keberadaan tradisi ini. Pada pemugaran awal Candi Borobudur tahun 1842 ditemukan sebuah keris sajen berhulu puthut di dalam stupa utama. Artefak tersebut kini tersimpan di Museum Etnologi Leiden dan menjadi salah satu bukti penting bahwa keris telah hadir bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga sebagai bagian dari ruang sakral dan praktik spiritual masyarakat masa lampau.
Dalam pitutur para empu, keris sajen konon ditempa menggunakan besi kadewatan, logam yang diyakini berasal dari alam luhur. Kitab Jitapsara menyebut besi Pulosani, yang pada masa lebih tua dikenal sebagai besi Wuryan, sebagai logam yang telah ada sejak sebelum kehidupan manusia, berasal dari zaman “bangsa peri”. Secara simbolik, besi tersebut digambarkan tersimpan di perut bumi, berwarna hitam kebiruan (nyamber lilen), bertekstur halus laksana beludru, sehingga dijuluki sebagai “ratunya besi”.
Dalam tradisi empu, besi ini dipercaya memiliki sifat dingin, murni, dan tidak memerlukan campuran logam lain. Keris yang ditempa darinya diyakini membawa tuah berupa kajen kineringan—menjadikan pemiliknya dihormati, dipercaya, dimudahkan memperoleh kedudukan, sekaligus dijauhkan dari perilaku buruk. Karena itu, perawatan keris semacam ini pun dilakukan melalui laku khusus dengan memanfaatkan ramuan dari berbagai unsur alam yang sarat makna simbolik.
Di balik seluruh aspek tersebut, figur manusia pada hulu keris sajen sesungguhnya merupakan jejak paling purba dari ekspresi artistik manusia Nusantara. Dalam kajian arkeologi, bentuk antropomorfis merupakan salah satu representasi simbolik tertua yang digunakan untuk menjembatani hubungan manusia dengan leluhur maupun dunia adikodrati. Tidak mengherankan apabila media sesaji pun mengambil bentuk serupa sebagai perlambang kehadiran manusia di hadapan kekuatan yang lebih tinggi.
Istilah puthut sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sanggar sebagaimana disebut dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama karya Empu Prapanca. Sanggar pada masa itu bukan sekadar ruang berkesenian, melainkan pusat pendidikan spiritual tempat para cantrik menimba ilmu keagamaan. Puthut merupakan abdi kepercayaan sang resi yang memimpin para cantrik, menjaga kesucian sanggar, menyiapkan perlengkapan upacara, serta memastikan setiap laku ritual berlangsung sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, hubungan antara puthut dan keris sajen bukanlah suatu kebetulan. Puthut adalah pelaku laku spiritual, sedangkan sajen merupakan medium persembahan. Dalam berbagai relief dan tradisi simbolik, sosok puthut juga dipahami sebagai manifestasi roh leluhur: tampil sederhana, tanpa alas kaki, bersanggul, namun memancarkan kedalaman batin dan kesadaran spiritual.
Ia merupakan gambaran kawula alit yang luhur—rendah hati, tekun menuntut ilmu, tulus mengabdi, serta senantiasa menundukkan diri di hadapan kebijaksanaan. Dalam sosok sederhana itulah tersimpan ajaran bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan rupa, melainkan pada kesucian laku dan kejernihan budi.
FR031
Keris Putut Sajen
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 446 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Sabuk Inten Majapahit Pamor Ceprit Dhapur: Sabuk Inten Luk 11 Pamor: Ceprat Ceprit Tangguh: Majapahit Kode: PK019 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Sabuk Inten Majapahit Pamor Ceprit Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminKeris Sengkelat Tinatah Emas Panji Wilis Gajah Singa TAG140
Hubungi AdminKeris Pandawa Lare Luk 5 Tangguh Mataram Sepuh Kuno TUS Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Pandawa Lare Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 33,7 cm Warangka : Gayaman Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning… selengkapnya
Rp 2.250.000Keris Nogo Topo Kinatah Keris Nogo Topo Kinatah adalah salah satu koleksi keris dari tangguh era Kamardikan. Memiliki bentuk yang cukup gagah dengan kinatah full memenuhi bilah. Bentuk bilah dibuat ornamen penuh model krawangan. Sehingga nampak keris ini sangat istimewa dan megah. Kamardikan di ambil dari kata “Kemerdekaan” yang artinya keris ini dibuat pada jaman… selengkapnya
Rp 950.000Naga Manglar Luk 13 Kinatah Filosofi Naga Manglar Luk 13 Kinatah NAGA = ular besar, dikenal dengan nama naga Taksaka simbol penjagaan atau perlindungan. Keistimewaannya membawanya hadir dalam setiap bangunan-bangunan suci (candi) hingga keraton-keraton di Jawa. Seperti di bagian atas gapura magangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat ornamen dua naga yang ekornya ke mengarah atas lalu… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris HB Sepuh Pamor Dwi Warna Wengkon Toya Mambeg Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Sari Pamor (motif lipatan besi) : Dwi Warna (Wengkon & Toya Mambeg) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Hb Sepuh Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Pisang Gandar Iras Tidak Sambungan Kuno Bawaan Bilah Handle… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pulanggeni Luk 5 Keleng Hurap Pajajaran TAG147
Rp 1.555.000Keris Pamor Uler Lulut Segaluh Keris Pamor Uler Lulut Segaluh adalah salah satu keris koleksi kami yang berdhapur brojol. Keris ini memiliki pamor yang cukup menawan dengan warna yang kontras dengan baja bilahnya. Pamor keris ini adalah Uler Lulut. Untuk tangguhnya jika dilihat dari pasikutan keris ini diperkirakan tangguh era Segaluh kuno. Ciri-ciri khas dari… selengkapnya
Rp 2.350.000Keris Pamor Wahyu Tumurun Tirto Tejo Dhapur Sempaner Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempaner Pamor (motif lipatan besi) : Wahyu Tumurun / Tirto Tejo Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Sepuh Panjang Bilah : 33,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Pendok :… selengkapnya
Rp 2.755.000














WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.