Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Putut Sajen » Keris Putut Sajen
click image to preview activate zoom

Keris Putut Sajen

Rp 1.555.000
KodeFR031
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Sanak, Tangguh Pajajaran
Jenis : Bethok
Dhapur Puthut Sajen
Pamor Sanak
Tangguh Pajajaran
Warangka : Sandang Walikat, Bahan Kayu Jati
Deder/Handle : -
Pendok : -
Mendak : -
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Putut Sajen

Keris Putut Sajen

Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan penamaan umum bagi kelompok keris sederhana yang diperkirakan berasal dari masa-masa awal perkembangan budaya keris di Nusantara. Ukurannya relatif pendek, sekitar sejengkal tangan, dengan ciri utama berupa ganja iras, yakni hulu yang menyatu dengan bilah karena ditempa dari sebongkah logam yang sama. Pada bagian hulunya dipahat figur manusia yang telah mengalami stilisasi, sederhana dalam bentuk, tetapi kaya akan makna simbolik.

Kesederhanaan tersebut juga tercermin pada garap bilahnya. Sebagian besar hanya menampilkan pamor keleng, sanak, atau mrambut, sementara pada periode yang lebih muda mulai dijumpai pamor banyu mili maupun singkir. Sifatnya yang bersahaja justru mengisyaratkan fungsi awal keris ini sebagai perlengkapan ritual, bukan semata-mata senjata atau benda pusaka sebagaimana berkembang pada masa berikutnya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, keris sajen dipercaya memiliki daya perlindungan terhadap kehidupan agraris, khususnya sawah dan ladang, dari ancaman pagebluk, hama, maupun gangguan yang diyakini berasal dari kekuatan tak kasatmata. Pada upacara bersih desa, keris ini ditempatkan di tengah ubo rampe sebagai bagian dari sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur dan roh penjaga alam. Seusai upacara, keris tersebut lazim “dipasrahkan” kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau di tengah ladang, sebagai simbol penyatuan manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.

Jejak tradisi tersebut diduga telah berakar sejak masa yang sangat tua. Prasasti Poh (904 M) misalnya, menyebut istilah keris sebagai bagian dari perlengkapan sesaji. Meski demikian, masih menjadi ruang kajian apakah keris yang dimaksud telah menyerupai bentuk keris modern, atau justru masih berupa keris purba yang sederhana seperti yang kini dikenal sebagai keris sajen.

Dalam kajian Barat, jenis ini kerap disebut Pichit Majapahit. Bentuknya umumnya menggunakan ganja iras dengan hulu antropomorfis yang beragam. Ada figur manusia berdiri membungkuk dengan kedua tangan bersilang di dada, ada yang duduk bersila dengan tangan bertumpu di atas lutut, sementara bentuk lain hanya menampilkan kepala memanjang tanpa lengan sehingga menyerupai nisan Islam. Variasi tersebut memperlihatkan adanya proses akulturasi budaya dan kepercayaan yang berlangsung sepanjang perkembangan masyarakat Jawa.

Karsten Sejr Jensen dalam Den Indonesiske Kris menguraikan simbolisme pada ragam bentuk kepala tersebut. Hiasan kuluk dipahami sebagai lambang bangsawan atau putra Islam; mahkota yang menyerupai menara melambangkan keturunan raja; sedangkan bentuk sorban merepresentasikan pendeta atau penasihat spiritual. Sementara itu, G.B. Gardner (1933) menafsirkan beberapa bentuk kepala yang menyerupai ular sendok (cobra) sebagai lambang persembahan kepada dewa ular, memperlihatkan betapa kaya lapisan simbolik yang melekat pada sebilah keris sederhana.

Temuan arkeologis turut memperkuat keberadaan tradisi ini. Pada pemugaran awal Candi Borobudur tahun 1842 ditemukan sebuah keris sajen berhulu puthut di dalam stupa utama. Artefak tersebut kini tersimpan di Museum Etnologi Leiden dan menjadi salah satu bukti penting bahwa keris telah hadir bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga sebagai bagian dari ruang sakral dan praktik spiritual masyarakat masa lampau.

Dalam pitutur para empu, keris sajen konon ditempa menggunakan besi kadewatan, logam yang diyakini berasal dari alam luhur. Kitab Jitapsara menyebut besi Pulosani, yang pada masa lebih tua dikenal sebagai besi Wuryan, sebagai logam yang telah ada sejak sebelum kehidupan manusia, berasal dari zaman “bangsa peri”. Secara simbolik, besi tersebut digambarkan tersimpan di perut bumi, berwarna hitam kebiruan (nyamber lilen), bertekstur halus laksana beludru, sehingga dijuluki sebagai “ratunya besi”.

Dalam tradisi empu, besi ini dipercaya memiliki sifat dingin, murni, dan tidak memerlukan campuran logam lain. Keris yang ditempa darinya diyakini membawa tuah berupa kajen kineringan—menjadikan pemiliknya dihormati, dipercaya, dimudahkan memperoleh kedudukan, sekaligus dijauhkan dari perilaku buruk. Karena itu, perawatan keris semacam ini pun dilakukan melalui laku khusus dengan memanfaatkan ramuan dari berbagai unsur alam yang sarat makna simbolik.

Di balik seluruh aspek tersebut, figur manusia pada hulu keris sajen sesungguhnya merupakan jejak paling purba dari ekspresi artistik manusia Nusantara. Dalam kajian arkeologi, bentuk antropomorfis merupakan salah satu representasi simbolik tertua yang digunakan untuk menjembatani hubungan manusia dengan leluhur maupun dunia adikodrati. Tidak mengherankan apabila media sesaji pun mengambil bentuk serupa sebagai perlambang kehadiran manusia di hadapan kekuatan yang lebih tinggi.

Istilah puthut sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sanggar sebagaimana disebut dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama karya Empu Prapanca. Sanggar pada masa itu bukan sekadar ruang berkesenian, melainkan pusat pendidikan spiritual tempat para cantrik menimba ilmu keagamaan. Puthut merupakan abdi kepercayaan sang resi yang memimpin para cantrik, menjaga kesucian sanggar, menyiapkan perlengkapan upacara, serta memastikan setiap laku ritual berlangsung sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, hubungan antara puthut dan keris sajen bukanlah suatu kebetulan. Puthut adalah pelaku laku spiritual, sedangkan sajen merupakan medium persembahan. Dalam berbagai relief dan tradisi simbolik, sosok puthut juga dipahami sebagai manifestasi roh leluhur: tampil sederhana, tanpa alas kaki, bersanggul, namun memancarkan kedalaman batin dan kesadaran spiritual.

Ia merupakan gambaran kawula alit yang luhur—rendah hati, tekun menuntut ilmu, tulus mengabdi, serta senantiasa menundukkan diri di hadapan kebijaksanaan. Dalam sosok sederhana itulah tersimpan ajaran bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan rupa, melainkan pada kesucian laku dan kejernihan budi.

FR031

Keris Putut Sajen

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 13 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us