Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Nogo Topo Kinatah Pamor Segoro Muncar
- Keris Jangkung Mangkurat Pamor Ron Genduru Sinebit
- Keris Kebo Lajer Pamor Batu Lapak Ngulit Semangka
- Pusaka Keris Sengkelat Tundung Madiun Kinatah Pera
- Patrem Tilam Upih Pamor Banyu Mili
- Keris Pandawa Lare Pamor Pancuran Mas Tangguh Dema
- Keris Nogo Manglar Bersayap Luk 19 Kinatah Kamarog
- Keris Sabuk Inten Luk 11 Tinatah Emas Panji Wilis
Keris Putut Sajen
| Kode | FR031 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Sanak, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Bethok |
| Dhapur | : Puthut Sajen |
| Pamor | : Sanak |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Bahan Kayu Jati |
| Deder/Handle | : - |
| Pendok | : - |
| Mendak | : - |
Keris Putut Sajen
Keris Putut Sajen
Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan penamaan umum bagi kelompok keris sederhana yang diperkirakan berasal dari masa-masa awal perkembangan budaya keris di Nusantara. Ukurannya relatif pendek, sekitar sejengkal tangan, dengan ciri utama berupa ganja iras, yakni hulu yang menyatu dengan bilah karena ditempa dari sebongkah logam yang sama. Pada bagian hulunya dipahat figur manusia yang telah mengalami stilisasi, sederhana dalam bentuk, tetapi kaya akan makna simbolik.
Kesederhanaan tersebut juga tercermin pada garap bilahnya. Sebagian besar hanya menampilkan pamor keleng, sanak, atau mrambut, sementara pada periode yang lebih muda mulai dijumpai pamor banyu mili maupun singkir. Sifatnya yang bersahaja justru mengisyaratkan fungsi awal keris ini sebagai perlengkapan ritual, bukan semata-mata senjata atau benda pusaka sebagaimana berkembang pada masa berikutnya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, keris sajen dipercaya memiliki daya perlindungan terhadap kehidupan agraris, khususnya sawah dan ladang, dari ancaman pagebluk, hama, maupun gangguan yang diyakini berasal dari kekuatan tak kasatmata. Pada upacara bersih desa, keris ini ditempatkan di tengah ubo rampe sebagai bagian dari sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur dan roh penjaga alam. Seusai upacara, keris tersebut lazim “dipasrahkan” kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau di tengah ladang, sebagai simbol penyatuan manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.
Jejak tradisi tersebut diduga telah berakar sejak masa yang sangat tua. Prasasti Poh (904 M) misalnya, menyebut istilah keris sebagai bagian dari perlengkapan sesaji. Meski demikian, masih menjadi ruang kajian apakah keris yang dimaksud telah menyerupai bentuk keris modern, atau justru masih berupa keris purba yang sederhana seperti yang kini dikenal sebagai keris sajen.
Dalam kajian Barat, jenis ini kerap disebut Pichit Majapahit. Bentuknya umumnya menggunakan ganja iras dengan hulu antropomorfis yang beragam. Ada figur manusia berdiri membungkuk dengan kedua tangan bersilang di dada, ada yang duduk bersila dengan tangan bertumpu di atas lutut, sementara bentuk lain hanya menampilkan kepala memanjang tanpa lengan sehingga menyerupai nisan Islam. Variasi tersebut memperlihatkan adanya proses akulturasi budaya dan kepercayaan yang berlangsung sepanjang perkembangan masyarakat Jawa.
Karsten Sejr Jensen dalam Den Indonesiske Kris menguraikan simbolisme pada ragam bentuk kepala tersebut. Hiasan kuluk dipahami sebagai lambang bangsawan atau putra Islam; mahkota yang menyerupai menara melambangkan keturunan raja; sedangkan bentuk sorban merepresentasikan pendeta atau penasihat spiritual. Sementara itu, G.B. Gardner (1933) menafsirkan beberapa bentuk kepala yang menyerupai ular sendok (cobra) sebagai lambang persembahan kepada dewa ular, memperlihatkan betapa kaya lapisan simbolik yang melekat pada sebilah keris sederhana.
Temuan arkeologis turut memperkuat keberadaan tradisi ini. Pada pemugaran awal Candi Borobudur tahun 1842 ditemukan sebuah keris sajen berhulu puthut di dalam stupa utama. Artefak tersebut kini tersimpan di Museum Etnologi Leiden dan menjadi salah satu bukti penting bahwa keris telah hadir bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga sebagai bagian dari ruang sakral dan praktik spiritual masyarakat masa lampau.
Dalam pitutur para empu, keris sajen konon ditempa menggunakan besi kadewatan, logam yang diyakini berasal dari alam luhur. Kitab Jitapsara menyebut besi Pulosani, yang pada masa lebih tua dikenal sebagai besi Wuryan, sebagai logam yang telah ada sejak sebelum kehidupan manusia, berasal dari zaman “bangsa peri”. Secara simbolik, besi tersebut digambarkan tersimpan di perut bumi, berwarna hitam kebiruan (nyamber lilen), bertekstur halus laksana beludru, sehingga dijuluki sebagai “ratunya besi”.
Dalam tradisi empu, besi ini dipercaya memiliki sifat dingin, murni, dan tidak memerlukan campuran logam lain. Keris yang ditempa darinya diyakini membawa tuah berupa kajen kineringan—menjadikan pemiliknya dihormati, dipercaya, dimudahkan memperoleh kedudukan, sekaligus dijauhkan dari perilaku buruk. Karena itu, perawatan keris semacam ini pun dilakukan melalui laku khusus dengan memanfaatkan ramuan dari berbagai unsur alam yang sarat makna simbolik.
Di balik seluruh aspek tersebut, figur manusia pada hulu keris sajen sesungguhnya merupakan jejak paling purba dari ekspresi artistik manusia Nusantara. Dalam kajian arkeologi, bentuk antropomorfis merupakan salah satu representasi simbolik tertua yang digunakan untuk menjembatani hubungan manusia dengan leluhur maupun dunia adikodrati. Tidak mengherankan apabila media sesaji pun mengambil bentuk serupa sebagai perlambang kehadiran manusia di hadapan kekuatan yang lebih tinggi.
Istilah puthut sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sanggar sebagaimana disebut dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama karya Empu Prapanca. Sanggar pada masa itu bukan sekadar ruang berkesenian, melainkan pusat pendidikan spiritual tempat para cantrik menimba ilmu keagamaan. Puthut merupakan abdi kepercayaan sang resi yang memimpin para cantrik, menjaga kesucian sanggar, menyiapkan perlengkapan upacara, serta memastikan setiap laku ritual berlangsung sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, hubungan antara puthut dan keris sajen bukanlah suatu kebetulan. Puthut adalah pelaku laku spiritual, sedangkan sajen merupakan medium persembahan. Dalam berbagai relief dan tradisi simbolik, sosok puthut juga dipahami sebagai manifestasi roh leluhur: tampil sederhana, tanpa alas kaki, bersanggul, namun memancarkan kedalaman batin dan kesadaran spiritual.
Ia merupakan gambaran kawula alit yang luhur—rendah hati, tekun menuntut ilmu, tulus mengabdi, serta senantiasa menundukkan diri di hadapan kebijaksanaan. Dalam sosok sederhana itulah tersimpan ajaran bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan rupa, melainkan pada kesucian laku dan kejernihan budi.
FR031
Keris Putut Sajen
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 163 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sabuk Inten Pusaka Peninggalan Kerajaan Mataram Sultan Agung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah / Beras Wutah (Pamor lembut nyutra ndeling) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 32 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Tidak Sambungan Kayu… selengkapnya
Rp 2.555.000Keris Sepuh Jangkung Mataram Sultan Agung Pamor Wahyu Tumurun Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Luk 3 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Wahyu Tumurun (pamor ngebyar meteorit) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 36,2 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Kemuning… selengkapnya
Rp 4.555.000Pusaka Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Ceprit Ceprit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Panjang Bilah : 31 cm Warangka : Branggah Jogja Kayu Sono Keling Handle / Gagang : Kayu Sawo Pendok : Blewah Jogjakarta Kuningan… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Mahesa Lajer Pamor Batu Lapak Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kebo lajer / Maheso Lajer Pamor (motif lipatan besi) : Batu lapak (pamor langka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Panjang Bilah : 33 cm pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Ladrang Surakarta Kayu gembol Jati Gandar Iras Kuno… selengkapnya
Rp 1.900.000Keris Bandotan Luk 11 Sepuh Keris Bandotan Luk 11 Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk sebelas. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Bandotan. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Wos Wutah. Warangka memakai model Ladrang dari bahan kayu Trembalo kuno…. selengkapnya
Rp 5.555.000Keris Singo Barong Kinatah Emas Keris Singo Barong Kinatah Emas adalah salah satu keris koleksi kami yang berusia ratusan tahun. Keris ini sangat sepuh dan tergolong kuno. Jika dilihat dari pasikutan dan material besinya, keris ini bisa diperkirakan dibuat pada era Kerajaan Mataram Senopaten. Keris-keris di era Mataram Senopaten memiliki karakter yang indah namun wingit…. selengkapnya
Rp 39.999.000Pusaka Kujang Ciung Siliwangi Mata 4 Pajajaran Sepuh Kuno Dhapur (jenis bentuk pusaka) : Kujang Ciung Mata 4 Pamor (motif lipatan besi) : Mrambut Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran (Abad XII) Panjang Bilah : 16,6 cm Warangka : Kayu Cendana Jawa Handle / Gagang : Kayu Cendana Jawa Kode : PK164 Dialih rawatkan (dimaharkan)… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Nogo Rojo Luk 13 Kinatah Kamarogan Keris Nogo Rojo Luk 13 Kinatah Kamarogan salah satu koleksi keris kamardikan terbaik dari ratusan koleksi pusaka keris kamardikan kami. Keris ini berdhapur Nogo Rojo, merupakan dhapur keris luk 13 dengan ciri khas pada gandiknya yang berganan Naga bermahkota Raja. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah… selengkapnya
Rp 6.111.000Keris Luk 13 Tundung Madiun Dhapur Keris Parungsari Parungsari merupakan salah satu dhapur keris berluk tiga belas dengan ukuran bilah sedang. Dapur ini dikenal memiliki ricikan yang relatif lengkap, antara lain kembang kacang—ada yang berjenggot dan ada pula yang tanpa jenggot—lambe gajah dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan, serta greneng. Sekilas, Parungsari kerap disamakan dengan dhapur… selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Bandotan Luk 11 Pamor Segoro Muncar Mataram Senopaten Keris Bandotan Luk 11 Pamor Segoro Muncar Mataram Senopaten adalah salah satu koleksi dari sekian koleksi keris kami yang istimewa. Keistimewaan keris ini selain dari tangguh, garap dan pamor juga dari nilai kelangkaan dhapurnya. Keunikan dalam pembuatan Keris Bandotan terwujud dalam detail-detailnya. Mulai dari sogokan rangkap,… selengkapnya
Rp 4.100.000














WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.