Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Tilam Upih Pamor Tetesing Warih Sepuh
- Jual Blawong Keris Ukir Gunungan Wayang Sunggingan
- Keris Sempana Pajajaran Sepuh
- Pusaka Tombak Kuntul Nglangak Pamor Singkir Sepuh
- Keris Karacan Luk 11 Kinatah Emas
- Pusaka Keris Pandawa Cinarita Mataram Amangkurat
- Keris Nogo Sosro Luk 13 Kinatah Kamarogan
- Keris Sabuk Inten Luk 11 Pamor Tirto Tumetes Tangg
Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak
| Kode | FR57 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Cirebon |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Pedaringan Kebak |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak
Dhapur Tilam Upih
Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang paling populer dalam tradisi perkerisan Nusantara. Nama Tilam Upih berasal dari istilah Jawa yang berarti tikar dari anyaman pelepah pinang yang digunakan sebagai alas untuk beristirahat. Karena itu, dhapur ini sejak dahulu dimaknai sebagai simbol ketenteraman, keharmonisan, dan kesejahteraan dalam kehidupan rumah tangga.
Tidak mengherankan apabila Dhapur Tilam Upih menjadi salah satu pusaka keluarga yang paling sering diwariskan secara turun-temurun. Para orang tua pada masa lalu lazim memberikan keris berdhapur Tilam Upih kepada anak yang telah menikah sebagai doa dan restu agar kehidupan rumah tangganya senantiasa dipenuhi ketenteraman, kemuliaan, serta kecukupan rezeki.
Lebih dari sekadar lambang kesejahteraan, Tilam Upih juga mengajarkan bahwa kebahagiaan keluarga dibangun di atas fondasi kasih sayang, tanggung jawab, dan kehidupan yang harmonis. Oleh sebab itu, dhapur ini sering dipandang sebagai simbol harapan agar setiap generasi mampu membangun keluarga yang kokoh dan penuh keberkahan.
Dalam tradisi perkerisan, Tilam Upih bahkan kerap dijuluki sebagai “Ibu dari Semua Keris” (The Mother of Kris). Sebutan tersebut muncul karena dhapur ini dianggap sebagai keris dasar yang paling tepat dimiliki oleh seseorang sebelum mengenal berbagai dhapur lainnya. Tradisi lisan juga menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga pernah menganjurkan para pengikutnya agar menjadikan Keris Tilam Upih sebagai pusaka pertama yang dimiliki, karena nilai filosofinya yang universal dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pamor Pedaringan Kebak
Pamor Pedaringan Kebak merupakan salah satu pamor yang paling dikenal sebagai simbol kecukupan dan kemakmuran. Nama ini berasal dari kata pedaringan, yaitu tempat penyimpanan beras yang dahulu dimiliki hampir setiap rumah tangga Jawa. Pedaringan yang selalu penuh menjadi lambang terpenuhinya kebutuhan hidup serta keberlangsungan rezeki bagi seluruh anggota keluarga.
Secara visual, Pamor Pedaringan Kebak memiliki kemiripan dengan Pamor Wos Wutah, namun pola sebarannya tampak lebih rapat, menyeluruh, dan memenuhi hampir seluruh permukaan bilah. Susunan pamor tersebut menghadirkan kesan lumbung yang benar-benar penuh oleh hasil panen.
Dalam tradisi perkerisan, pamor ini dimaknai sebagai perlambang hasil kerja keras yang membuahkan keberkahan. Segala ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh diharapkan menghasilkan rezeki yang cukup, stabil, dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Makna tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai limpahan harta, melainkan juga sebagai pengingat bahwa kemakmuran sejati lahir dari usaha yang halal, pengelolaan yang bijaksana, serta rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung
Keris ini memperlihatkan karakter yang menarik karena memadukan gaya garap Cirebon dengan kualitas material yang menunjukkan pengaruh kuat dari masa kejayaan Kesultanan Mataram pada era Sultan Agung.
Secara bentuk, bilahnya masih mempertahankan karakter khas keris Cirebon. Namun dari sisi material, terutama kualitas besi dan pamornya, terlihat peningkatan yang mengingatkan pada keris-keris Mataram masa Sultan Agung. Hal ini diduga berkaitan dengan peristiwa pakelun, ketika Sultan Agung menghimpun ratusan empu dari berbagai daerah di Nusantara, termasuk dari Cirebon, untuk mengembangkan kualitas karya-karya tosan aji. Pertemuan berbagai tradisi tempa tersebut melahirkan keris dengan material yang semakin baik, salah satunya ditandai oleh munculnya pamor pethak mubyar atau yang sering disebut sebagai royal pamor.
Hubungan antara Cirebon dan Mataram pada masa Sultan Agung memang sangat erat. Setelah berada di bawah pengaruh Mataram, Cirebon menjadi salah satu daerah vasal sekaligus pangkalan militer penting dalam upaya penyerangan ke Batavia. Hubungan politik tersebut semakin diperkuat melalui ikatan pernikahan antara Sultan Agung dengan keluarga Kesultanan Cirebon, yang kemudian melahirkan Sunan Amangkurat I sebagai penerus takhta Mataram.
Di luar aspek politik, hubungan tersebut juga membawa pengaruh besar terhadap perkembangan seni dan budaya. Cirebon yang sejak masa Sunan Gunung Jati telah menjadi pusat perdagangan internasional menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi, termasuk tradisi perkerisan. Tidak mengherankan apabila karya-karya empu Cirebon pada masa itu memperlihatkan perpaduan antara karakter pesisir yang khas dengan kualitas material dan teknik tempa yang berkembang di lingkungan Mataram.
Keris bertangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung menjadi salah satu bukti bahwa perkembangan tosan aji Nusantara berlangsung melalui proses saling memengaruhi antardaerah. Dari perpaduan itulah lahir karya-karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga merekam perjalanan sejarah, politik, dan kebudayaan Nusantara dalam sebilah pusaka.
FR57
Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 237 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Pamor Setro Banyu Asli Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Setro Banyu Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Panjang Bilah : 32,5 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Kayu Trembalo Nginden Model Gayaman Surakarta Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Jalak Ngore Mageti Pamor Mlinjon Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Ngore Pamor (motif lipatan besi) : Mlinjon (besi tempa padat berserat Khas Mageti) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mageti II Panjang Bilah : 35 cm pesi utuh masih panjang original Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 6.500.000Keris Buto Ijo Mataram Senopaten Keris Buto Ijo bertangguh Mataram Senopaten merupakan pusaka yang memadukan kekuatan simbolik tokoh raksasa dalam khazanah pewayangan dengan karakter awal Dinasti Mataram yang gagah, tegas, dan sarat laku spiritual. Dalam tradisi Jawa, Buto Ijo bukan sekadar gambaran makhluk besar dan menakutkan, melainkan perlambang dari kekuatan dahsyat yang harus ditaklukkan—baik dalam… selengkapnya
Rp 4.500.000Panji Nom Jenis : Keris Lurus Dhapur : Panji Nom Pamor : Segoro Muncar Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan Warangka : Kayu Trembalo Gandar Kuno Hulu/Handle : Banaran Kayu Trembalo Kuno Pendok : Bunton Bahan Perak Kuno Mendak : Bejen Bahan Kuningan Sepuh Perak Filosofi Keris Panji Nom Keris Panji Anom atau dikenal juga sebagai… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Dhapur Sempaner Harapan yang dititipkan dalam sebilah pusaka Dhapur Sempaner—atau dikenal juga sebagai Sempana Bener—merupakan salah satu bentuk keris lurus yang cukup banyak dijumpai lintas zaman, mulai dari era Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajajaran, hingga periode yang lebih muda. Nama “Sempana Bener” secara harfiah dimaknai sebagai “mimpi yang menjadi nyata” atau “harapan yang menemukan jalannya”…. selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Panimbal Pamor Pulo Tirto Keris Panimbal Pamor Pulo Tirto memang sangat menarik dan estetik. Pola bulatan-bulatan pamor yang indah menjadi simbolik tersendiri sebuah pesan, doa dan harapan oleh sang Empu. Pamor dengan pola bulatan-bulatan sangat identik dengan simbolik air. Air adalah sumber kehidupan seluruh makhluk tidak terkecuali manusia. Yang setiap hari menjadi penghidupan bagi… selengkapnya
Rp 3.900.000Pusaka Keris Sabuk Inten Majapahit Pamor Ceprit Dhapur: Sabuk Inten Luk 11 Pamor: Ceprat Ceprit Tangguh: Majapahit Kode: PK019 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Sabuk Inten Majapahit Pamor Ceprit Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminKeris Nogo Welang Luk 19 Kinatah Kamarogan Kamardikan Istimewa Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Welang Luk 19 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Garap Alus (pesanan khusus) Panjang Bilah : 37,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Jati Alas Handle / Gagang : Kayu Jati Alas… selengkapnya
Rp 1.888.000Pusaka Keris Jalak Sangu Tumpeng Mataram Senopaten Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (pamor gonjo maskumambang) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Senopaten Panjang Bilah : 32,2 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Gandar Iras Tidak Sambungan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Nagasasra Wahyu Tumurun Kinatah Kamarogan Silih Asih Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Nagasasra Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Wahyu Tumurun (pamor membentuk badan ular) Kinatah: Kamarogan Silih Asih (emas dan perak) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Kelas Premium Panjang Bilah : 37,1 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Galeh Nagasari… selengkapnya
Rp 11.111.000








WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.