Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Sura Luk 9 Pusaka Bugis Kuno
- Pusaka Keris Putut Kinatah Emas Sepuh Kuno
- Jual Mendak Keris Silih Asih Kendit Solo
- Keris Lurus Tilam Sari HB I Pamor Tangkis Sepuh Ku
- Keris Tilam Upih Pamor Wiji Timun HB Sepuh
- Pusaka Keris Parungsari Pamor Wengkon Isen
- Pendok Keris Slorok Jogja Kemalo Abrit Merah Mewah
- Blawong Keris Tombak Pusaka Ukiran Lambang Keraton
Filosofi Keris Pusaka Sebagai Pesan Simbolik
Filosofi Keris Pusaka Sebagai Pesan Simbolik

Bagi masyarakat Jawa, keris memiliki nilai tertentu. Bukan sebagai klenik, melainkan sebagai filosofi dalam kehidupan. Makna filosofis yang terkandung dalam sebuah keris bisa dilihat mulai dari proses pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya.
Empu menciptakan keris bukan untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu.
Dalam adat Jawa, keris adalah satu dari lima hal yang harus dimiliki oleh laki-laki Jawa dewasa. Keris pada dasarnya menunjukkan kemapanan seorang laki-laki Jawa. Sekaligus simbol diri dari pemiliknya serta simbol garis keturunan.
Keris juga bisa menjadi simbol status atau strata mulai dari petani, prajurit, kemudian petinggi sampai raja. Keris yang mereka miliki pasti berbeda karakter sesuai dengan pemiliknya.
Jumlah luk pada keris juga memiliki arti tersendiri. Misalnya, keris ber keluk satu, sebagai simbol kesederhanaan. Luk tiga, sebagai simbol bahwa pemiliknya bersikap semeleh, berserah pada pemilik kehidupan.
Keris biasanya disesuaikan dengan wuku kelahiran dan kebutuhan pemiliknya. Misalnya ingin kesejahteraan rumah tangga, kita bisa memilih keris dengan dapur tilam sari. Kalau jaman dulu, kalau kita memesan dari empu, kita tidak bisa memesan sesuai keinginan kita, tapi sang empu yang menentukan keris apa yang cocok untuk kita.
Keris atau dalam bahasa Jawa disebut Tosan Aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati. Jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini memiliki kandungan yang mempunyai makna harus dihormati, karena merupakan warisan budaya nenek moyang yang bernilai tinggi.
Posisi keris sebagai benda simbolis dan obyek spiritual hingga kini masih terlihat. Setidaknya setiap tahun di keraton Yogyakarta dan Surakarta selalu dilakukan upacara dan ritual kirab pusaka keliling benteng.
Anda tentu pernah melihat foto lama yang mengabadikan momen Presiden Soekarno memberikan cendera mata keris pada Presiden Fidel Castro. Dalam foto itu terlihat sosok pemimpin revolusioner Kuba serius mencermati sebilah keris yang dipegangnya, dan Presiden Soekarno terlihat tengah memegang sarung keris sembari harap-harap cemas menyimak respons Presiden Castro.
Pilihan memberikan keris sebagai cendera mata tentu bukan nirmakna. Sudah jadi common sense, setidaknya di budaya Jawa, keris ialah simbol kepahlawanan dan sikap kesatria.
Lihatlah tokoh Pendawa: Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Bisa dikata mereka adalah hero dalam imajinasi orang Jawa. Kecuali pada tokoh Bima, sebilah keris lazim nyengkelit di tubuh tokoh hero dari jagat pewayangan itu.
Bung Karno juga berlatar belakang budaya Jawa. Trikoro Dharmo, yang nanti berubah nama jadi Jong Java ialah organisasi kepemudaan yang pertama kali diikuti Bung Karno demikian dia biasa dipanggil, juga menempatkan keris sebagai simbol organisasi.
Pemberian keris dan peci pada tokoh pemimpin revolusioner bangsa Kuba Fidel Castro, salah satunya, terang memberi pesan akan makna itu. Spirit kepahlawanan dan sikap kesatria.
Tapi bicara keris tentu tak melulu tentang makna kepahlawanan dan sikap kesatria. Keris memiliki spektrum makna yang notabene jauh lebih luas dan lagi dalam. Keris bukan hanya semata berfungsi sebagai senjata taktis tradisional. Tak semata itu.
Keris juga momot atau mengandung nilai-nilai filosofis, kosmologis, dan ontologis, atau malah keseluruhan spektrum makna. Baik itu tentang konsepsi hubungan Tuhan dan manusia, maupun antarsesama manusia.
Artinya, selain bermakna tangible yakni aspek seni estetis dari tradisi olah tempa-lipat senjata khas dan asli Indonesia yang utama adalah justru aspek intangible yang melekat dengannya, yakni filosofis, kisah tutur, tradisi, legenda, mitos, atau singkat kata ‘local knowledge’.
Lekatnya keris sebagai benda simbolik orang Jawa, bagaimanpun telah mengambil porsi besar sebagai bagian dari pembentuk sistem simbolis kebudayaan mereka. Sekaligus juga mengisyaratkan bagaimana pentingnya posisi keris secara kebudayaan.

Makna Kebudayaan Keris
Jika mengikuti teori simbol yang dirumuskan Clifford Geertz, yang mendudukkan kebudayaan dalam perspektif semiotika dan hermenutika, hipotesa keris merupakan simbol dan representasi jati diri budaya Jawa terlihat semakin kukuh.
Dalam Interpretation of Cultures, Geertz menguraikan makna di balik sistem simbol suatu kebudayaan. Antropolog Amerika yang sekaligus seorang Indonesianis yang di tanah air populer melalui karya etnografisnya, The Religion of Java, menggarisbawahi bahwa sistem simbol itu sendiri merefleksikan makna kebudayaan sebuah masyarakat.
Tentu disadari, secara teoritis tidaklah mungkin mendudukkan keris sebagai episentrum atau perwujudan sistem simbolik itu sendiri. Pasalnya teori Geertz ini diformulasikan untuk melihat dan menginterpretasikan tentang fenomena agama sebagai “fakta kebudayaan”. Posisi agama di sini, bagaimanapun menjadi episentrum dari sistem simbolik sebuah kebudayaan.
Sedangkan, jika mencermati fungsi sosial dan individual dari keris, sekalipun terlihat tendensi disakralkan sebegitu rupa dan dianggap sebagai objek spiritual di dalam khazanah budaya Jawa, tetap saja posisinya sekadar merupakan salah satu simbol dari sekian simbol lainnya.
Namun demikian, melihat pentingnya posisi keris di dalam budaya Jawa, adalah dimungkinkan keris ditempatkan sebagai representasi simbolik yang penting dicermati. Namun sebelum melangkah ke sana, baiknya disimak terlebih dulu pandangan Geertzian tentang kebudayaan.
Merujuk pendapat FW Dillistone dalam The Power of Symbols, apa yang menjadi pusat minat dan penelitian Geertz saat bicara topik agama adalah perihal “makna yang diejawantahkan dalam simbol atau konsep yang terungkap dalam bentuk simbolis”.
Seperti diketahui, menurut Geertz “kebudayaan” berarti suatu pola makna yang ditularkan secara historis, yang diejawantahkan dalam bentuk simbol-simbol, dan menjadi sarana manusia untuk menyampaikan, mengabadikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang sikap-sikap mereka terhadap hidup. Di setiap kebudayaan, yang disebut makna tidaklah pernah terisolasi secara individual, tetapi selalu merupakan domain publik.
Demikianlah, ada korelasi yang kuat antara simbol-simbol tertentu pada sebuah kebudayaan dan bagaimana sebuah masyarakat tertentu itu menafsirkan, memaknai, dan menghayati semesta pandangan dunianya, dan sekaligus membentuk kembali dunia simboliknya.
Momen Simbolik Keris
Bicara sistem simbol, tampaknya posisi keris merupakan salah satu simbol signifikan bagi semesta pandangan dunia Jawa. Benar, keris bukan monopololi budaya Jawa. Keris ialah fenomena budaya Nusantara, bahkan keberadaannya hingga menjangkau wilayah kawasan yang luas. Regional Asia Tenggara.
Meski demikian pada budaya Jawa-lah, signifikansi keberadaan keris tampak melebihi etnis lainnya. Tentu susah menjelaskan latarbelakang historis mengapa makna keris jadi penting dan bahkan cenderung disakralkan sebegitu rupa dalam budaya ini.
Walaupun konteks historisnya susah dilacak, makna antropologisnya masih mudah disimak. Dalam konteks ini, bicara keris sebagai benda simbolis dan obyek spiritual sebagaimana deskripsi keris oleh UNESCO berarti juga harus bicara budaya Jawa sebagai lanskap.
Sementara itu, bicara struktur makna keris dalam budaya Jawa berarti harus memahami kerangka kosmologis-mistis orang Jawa. Relasi antara Tuhan, alam, dan manusia, harus dimaknai dalam konsepsi “makrokosmos-mikrokosmos”.
Dari sana pulalah, pada suatu fase sejarah budaya Jawa-Islam, konsepsi “manunggaling kawula-Gusti” pun lahir. Dari jagat pewayangan pun digambarkan, relasi antara Tuhan dan manusia sebagai mirip lakon wayang yang semata digerakan oleh kuasa sang dalang.
Masih dari dunia pewayangan, yang dikatakan Ben Anderson sebagai khazanah utama proses internalisasi psikologis orang Jawa, juga dikenal konsepsi kekuasaan raja-dewa sebagai ”ratu gung binathara, baudhendha nyakrawati” (sebesar kekuasaan Tuhan, pemelihara hukum, dan penguasa dunia).
Mendedah narasi Syekh Siti Jenar yang sangat populer di Jawa, PJ Zoetmulder pun menyimpulkan, karakteristik filosofis Jawa sebagai bercorak “pantheisme”.
Menariknya, konsepsi kosmologi-mistis ini bukan saja tercermin dalam pandangan-dunia Jawa yang menempatkan posisi raja sebagai pusat kosmos, melainkan juga mewujud dalam relasi struktur sosial masyarakat Jawa. Konsep ”ratu gung binathara, baudhendha nyakrawati” ini, sekaligus konsepsi “manunggaling kawula-Gusti”, seperti diketahui bersama, suka atau tidak suka, diadopsi Wangsa Mataram-Islam.
Selain itu, sikap pemuliaan masyarakat Jawa pada para leluhurnya tentu patut dicatat. Konsepsi moral masyarat Jawa mewajibkan anak bersikap sangat hormat pada orang tuanya. Ini terlihat dalam frasa “wong tuo iku Gusti Allah kang katon”, langsung atau tidak, juga mengisyaratkan kuatnya pandangan kosmologi-mistis Jawa.
Ide-ide dan konsepsi abstrak perihal moralitas atau etika Jawa segera mawujud pada cara orang Jawa menghormati orang tua mereka sehari-hari. Orang tua secara struktur sosial ditempatkan pada posisi hirarkis lebih tinggi. Saat anak bertutur dia menggunakan bahasa krama inggil, sedangkan orang tuanya ngoko.
Dalam lanskap kosmologi-mistis Jawa seperti itulah, tradisi keris sebagai budaya keraton lahir. Maka segera saja keris dibuat dalam kerangka nilai-nilai filosofis dan konsepsi kosmologis-mitis Jawa tersebut.
Frasa “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga” secara terang benderang memberi konfirmasi bahwa makna atau nilai-nilai dari konsep filosofis manungggaling kawula-Gusti secara simbolis telah diejawantahkan pada keberadaan keris.
Keris secara metalurgi sengaja dibuat dengan memadukan antara material logam yang berasal dari bumi dan langit (meteor) juga memberikan makna “Bapa Angkasa, Ibu Pertiwi”. Meteor sebagai representasi material langit dan konsepsi makrokosmos, sedangkan material logam bumi sebagai representasi konsep mikrokosmos. Perpaduan dua atau lebih unsur logam yang bersumber dari langit dan bumi itu menciptakan aneka ragam motif pamor.
Empu sendiri dianggap sebagai orang linuwih (sakti). Profesi ini bukan saja dituntut menguasai seni metalurgi pengolahan logam secara mumpuni, melainkan juga mensyaratkan banyak pengetahuan tambahan seperti sastra, sejarah, ilmu psikologi atau pawukon, dan juga ilmu gaib (olkutisme).
Sugesti doa dan pengharapan sang Empu yang disertai ritual dalam proses pembuatannya inilah, yang dipercayai membentuk kekuatan magis pada keris. Walhasil, keris sebagai senjata taktis tradisional sekaligus berfungsi menjadi benda simbolis dan spiritual. Orang Jawa menyebut fungsi keris itu sebagai sipat kandel.
Bagaimana kompleks dan rumitnya aneka rupa simbol dan pesan maknanya di dalam keris itu sendiri, tampak jikalau ricikan atau aspek ornamental pembentuk sebuah dhapur keris juga disimak secara mendetail.
Seperti diketahui aneka komposisi ricikan akan menentukan nama dhapur atau model keris. Seringkali pada satu dhapur tertentu dan dhapur lainnya ternyata perbedaan ricikan itu sangat kecil sehingga terkadang bisa terabaikan oleh mata awam. Perbedaan komposisi ricikan yang membawa konsekuensi perbedaan nama dhapur ini tentu juga memiliki korelasi dengan perbedaan makna yang diemban oleh sebuah keris.
Belum lagi jika kemudian motif pamor sebagai “unsur dekoratif” keris juga jadi pertimbangan dalam menafsir makna simbolisnya. Sebuah dhapur keris yang sama, namun keduanya memiliki motif pamor berbeda, bisa berarti memiliki makna spesifik yang berbeda satu dengan lainnya.
Dari makna benda simbolis dan spiritual itu kemudian bersintesis dengan konsep kuasa Mataram-Islam. Dibalut pelbagai mitos, folklore, ritual, dan simbol-simbol lainnya, lambat laun pun terbentuklah makna keris yang semakin kukuh sebagai benda simbolis dan obyek sipiritual dalam budaya Jawa.
Keris sebagai benda simbolis dan obyek spiritual hingga kini masih terlihat mengemuka di keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dua keraton di bekas kota verstenlenden ini setidaknya setiap tahun selalu melakukan upacara dan ritual kirab (mengarak) pusaka-pusaka keraton keliling benteng.
Tak kecuali bicara makna secara individual bagi para pengeris, khususnya bagi yang notabene berlatar belakang budaya Jawa. Dikenal istilah “pusaka waris”. Sebuah keris yang telah diwariskan antargenerasi ke generasi dalam keluarga.
Lazimnya bagi keluarga pewaris, keris ini mendapatkan posisi khusus dibandingkan keris lain yang didapatkan dari “memahari” (mengadopsi) pusaka milik orang lain. Selain dianggap merepresentasikan geneologi keluarga, adanya tradisi merawat (uri-uri) pusaka waris ialah bagian dari upaya mengingat dan memuliakan leluhur mereka.
Ya, bagaimana signifikansi keris dalam sistem simbolik orang Jawa memang tampak begitu kuat, baik dalam arti individual maupun dalam arti sosial.
Bukan saja berfungsi sebagai perwujudan simbolisasi dari ide-ide atau konsep filsafat atau local knowledge yang dimiliki oleh masyarakat Jawa, lebih jauh juga berfungsi sebagai pembeda strata kelas sosial, sebagai obyek spiritual (sipat kandel), mengemban fungsi edukasi tentang moralitas atau etika yang dilekatkan pada bentuk arsitektural keris, dan lain sebagainya.
Menariknya, apa yang pada awalnya ialah perwujudan simbolisasi dari semesta makna pandangan dunia Jawa, dalam perjalanannya kemudian keris sebagai benda simbolis itu juga diadopsi menjadi simbol resmi dari banyak organisasi modern yang didirikan oleh masyarakat Jawa.
Salah satu contohnya adalah Trikoro Dharmo yang nanti berubah nama menjadi Jong Java itu, tempat persemaian gagasan Bung Karno dan dunia pergerakan yang pertamakali dimasukinya saat beliau masih muda. Jadi mudah diduga, pilihan untuk memberikan keris sebagai cendera mata pada Presiden Fidel Castro tentu tak lepas dari latar belakang pribadi Bung Karno sebagai orang Jawa-Bali, yang paham akan signifikansi keris dalam sistem simbolik budaya Jawa atau Bali.
sumber: Indonesia.go.id
Tags: filosofi keris, Filosofi Keris Pusaka Sebagai Pesan Simbolik
Filosofi Keris Pusaka Sebagai Pesan Simbolik
Pakubuwana: Jejak Kekuasaan dan Warisan Sejarah Kerajaan Mataram Kerajaan Mataram, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara pada masa lampau, memiliki... selengkapnya
Keris Bali: Simbol Kekuatan dan Spiritualitas dalam Budaya Pulau Dewata Pulau Bali, yang dikenal sebagai “Pulau Dewata,” tidak hanya terkenal... selengkapnya
Pusaka Keris Jokowi Kyai Tengara Pusaka Keris Jokowi Kyai Tengara – Museum Keris Nusantara di Solo, Jawa Tengah, menyimpan ratusan... selengkapnya
Sejarah Amangkurat: Perebutan Kekuasaan dan Dinasti Mataram Amangkurat adalah salah satu nama yang mengemuka dalam sejarah dinasti Mataram di Jawa,... selengkapnya
Keris Mataram Sultan Agung: Senjata Bersejarah Penuh Makna Keris Mataram Sultan Agung, sebuah senjata yang tidak hanya memiliki nilai fungsional... selengkapnya
Kesultanan Cirebon: Gemerlap Sejarah dan Pesona Budaya di Nusantara Kesultanan Cirebon adalah salah satu kesultanan yang memiliki sejarah panjang dan... selengkapnya
Takdir Pasupati Setiap aku lahir membawa tugas Manetapi mandat hingga tewas Tumbuh perkasa harus! Soal mati sudah ada Hyang mengurus
Makna Filosofi Keris Lurus Yang Tidak Banyak Diketahui Makna Filosofi Keris Lurus Yang Tidak Banyak Diketahui – Seperti yang kita... selengkapnya
Pusaka Keris Pamor Buntel Mayit Pamor keris adalah salah satu bahan pembuatan keris yang terdiri atas 3 jenis. ketiga jenis... selengkapnya
Apa itu Pendok Keris? Pendok Keris adalah salah satu aksesoris sandangan keris, yaitu lapisan pelindung bagian gandar dari warangka keris.... selengkapnya
Keris Sempana Luk 9 Pamor Jala Tunda Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempana Luk 9 Pamor (motif… selengkapnya
Rp 1.750.000Keris Kinatah Makoro HB V Keris Kinatah Makoro HB V salah satu koleksi pusaka istimewa dari era Hamengkubuwana ke-5. Keris… selengkapnya
Rp 45.555.000Keris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal Keris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal memang memiliki kualitasnya tersendiri. Dari mulai… selengkapnya
Rp 2.300.000Pusaka Keris Panimbal Luk 9 Pamor Ceprit Tangguh Majapahit Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Panimbal Luk 9 Pamor… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sengkelat PB X Gagah Berwibawa Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Sengkelat PB X. Keris dengan dhapur sengkelat ini kami dapatkan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Carubuk Pamor Rojo Gundolo Pulo Tirto Segaluh Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Luk 7 (luk hemet… selengkapnya
Rp 2.250.000Pusaka Keris Dhapur Langka Kaliko Bendo Pamor Keleng Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kaliko Bendo (dhapur langka) Pamor (motif… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Nogo Temanten Kalawijan Luk 27 Kinatah Kamarogan Unik Antik Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Temanten Kolowijan Luk… selengkapnya
Rp 2.250.000Keris Buto Ijo Mataram Senopaten Keris Buto Ijo bertangguh Mataram Senopaten merupakan pusaka yang memadukan kekuatan simbolik tokoh raksasa dalam… selengkapnya
Rp 4.500.000Blawong Keris Ukiran Motif Semar Mesem Blawong Keris Ukiran Motif Semar Mesem, tokoh wayang bernama Semar ini adalah salah satu… selengkapnya
Rp 400.000
WhatsApp us
Saat ini belum tersedia komentar.