Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Blog » Keris dan Dukun

Keris dan Dukun

Diposting pada 24 Januari 2026 oleh admin / Dilihat: 37 kali / Kategori:

Keris dan Dukun

Hari ini, cara pandang terhadap keris telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Keris tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai benda mistis yang identik dengan dukun, mantra, atau kisah-kisah horor sebagaimana kerap digambarkan dalam film dan cerita populer. Gambaran semacam ini memang terlanjur mengendap kuat di benak masyarakat, seolah-olah keris hanya hidup di ruang gelap penuh klenik dan jauh dari nalar.

Padahal, kenyataannya keris telah lama melampaui stigma tersebut. Keris kini telah memasuki ruang akademik, ruang kajian ilmiah, bahkan ruang pendidikan formal. Salah satu bukti paling nyata adalah berdirinya Program Studi Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kehadiran program studi ini bukan sekadar simbol, melainkan penanda penting bahwa keris dipelajari, diteliti, dan dikembangkan sebagai objek ilmu pengetahuan—bukan sebagai praktik perdukunan.

Pada titik inilah kita perlu menegaskan satu hal yang kerap kabur dalam diskursus publik: dukun bukanlah ahli keris. Seorang dukun mungkin memiliki laku spiritual, kepercayaan batin, atau praktik pengobatan tradisional tertentu. Namun keahlian tersebut tidak serta-merta menjadikannya memahami keris sebagai produk sejarah, karya seni, dan hasil peradaban. Ahli keris bekerja dengan pengetahuan, metode, dan kajian, bukan dengan klaim suprarasional semata.

Namun demikian, tidak adil pula jika unsur mistisisme dalam tradisi perkerisan sepenuhnya dinafikan. Dalam perjalanan sejarahnya, istilah-istilah mistik memang kerap muncul dan menyertai pemahaman tentang keris. Hal ini wajar, sebab pengetahuan tentang keris tumbuh secara bertahap dan mengikuti cara berpikir pada zamannya. Untuk menempatkan unsur mistik secara proporsional, kita perlu memahami fase-fase perkembangan kawruh paduwungan sebagaimana diklasifikasikan oleh Bapak Haryono Haryoguritno.

Fase pertama adalah kawruh paduwungan klasik. Salah satu rujukan utama pada tahap ini adalah Serat Centhini, yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV oleh Empu Ronggo Sutrasno. Serat ini memuat legenda, mitologi, kepercayaan personal, kisah perjalanan, serta sejarah perorangan yang sangat subjektif. Pengetahuan pada fase ini belum disusun secara sistematis dan belum dibukukan sebagai disiplin ilmu. Ia lebih tepat disebut sebagai seserepan—pengetahuan yang terserak, bukan ilmu yang terstruktur. Pada fase inilah unsur-unsur mistik sangat kental, bukan karena keris itu sendiri, melainkan karena cara pengetahuannya.

Fase kedua adalah kawruh paduwungan tradisional. Fase ini dipersonifikasikan oleh Gusti Pangeran Hadi Wijoyo dan mulai berkembang di lingkungan Keraton Surakarta sekitar tahun 1920. Pada masa ini muncul upaya untuk menata pengetahuan tentang keris agar lebih rapi dan terpilah dibandingkan kawruh klasik. Meski demikian, pendekatan yang digunakan masih belum bersifat ilmiah. Kawruh paduwungan tradisional lebih merupakan proses penajaman dan penyaringan dari pengetahuan sebelumnya. Walau belum ilmiah, fase ini memiliki peran penting sebagai jembatan menuju lahirnya ilmu perkerisan modern.

Fase ketiga adalah ilmu perkerisan modern, yang kini dikenal sebagai krisologi. Pada tahap inilah terjadi perubahan mendasar. Keris tidak lagi dipahami semata melalui rasa, kepercayaan, atau tafsir mistik, melainkan dikaji dengan pendekatan multidisipliner. Rujukannya dapat ditemukan dalam karya-karya tokoh seperti Bapak Haryono Haryoguritno, salah satunya melalui buku Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar. Dalam krisologi, keris dikaji melalui perspektif antropologi, sejarah, arkeologi, sosiologi, seni, hingga teknologi material. Ilmu perkerisan modern berdiri di atas dialog dengan banyak cabang ilmu lain agar kokoh secara akademik.

Inilah tahap yang hari ini harus terus dikembangkan. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Bapak Haryono Haryoguritno, pengembangan krisologi merupakan bentuk “membayar utang kita kepada dunia”—utang pengetahuan, utang penjelasan, dan utang tanggung jawab ilmiah. Terlebih setelah keris diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan ini bukan semata-mata kebanggaan, melainkan juga kewajiban untuk menjelaskan keris secara rasional, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat modern.

Tanpa kawruh paduwungan klasik dan tradisional, krisologi modern tentu tidak akan pernah lahir. Namun berhenti pada mistik justru akan membuat keris kehilangan martabatnya. Di sinilah penegasan itu kembali menjadi penting: dukun bukanlah ahli keris. Ahli keris adalah mereka yang bersedia belajar, meneliti, membaca konteks sejarah, serta memahami keris sebagai hasil kecerdasan peradaban Nusantara.

Keris tidak kehilangan nilainya ketika didekati dengan akal sehat. Justru sebaliknya, martabat keris akan semakin tinggi ketika ia dipahami melalui ilmu pengetahuan, bukan sekadar ditakuti lewat mitos. Keris bukan benda horor. Ia adalah warisan intelektual dan budaya. Dan sudah semestinya kita memperlakukan keris sebagaimana martabatnya.

 

penulis: Daksa Niyata (Tosan Aji Group)

Bagikan ke

Keris dan Dukun

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Keris dan Dukun

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us